Rabu, 11 Juni 2014

Negeriku Bukan Panggung Teater

Negeriku Amatlah Kaya.
Berilau kerlap - kerlip alamnya. Bertaburan emas dan permata dalam tambangnya. Gedung yang menjulang tinggi. Kebudayaan yang beragam. Manusia yang melebur dalam tentram. Cita - cita yang teramat banyak sangat, dan tinggi berlangit - langit. Negeriku kokoh berdiri. Satu, meski pulau di luar kotak, namun dalam lingkar.


Tapi... Negeriku Bukan Panggung Teater.
Bukan Negara yang semata bisa jadi tempat tontonan banyak orang. Hiburan. Dan pelampiasan kejenuhan. Bukan Negara yang bisa diatur dengan "Skenario" sembarangan. Bukan Negara yang bisa dikendalikan oleh "Sutradara" sembarangan. Negeriku punya visi dan misi jelas yang tak dapat kau ganggu gugat. Negeriku adalah karunia Tuhan, Sang Sutradara Kehidupan. Pemilik "Skenario" dari "Naskah" yang sesungguhnya. Untuk memajukan dan menghidupkan kesejahteraan Indonesia. Campur tangan "Kalian" tak memberi arti dalam diri. Hanya merusak, tak berniat memajukan Negeri ini sejak awalnya. Karena kalian bukan dari sini.


Negeriku Bukan Panggung Teater.
Bukan Negara yang berisikan banyak kedok. Bukan Protagonis yang berwatak baik, santun dan manis - manis gula. Namun, dibaliknya justru Serigala berbulu Domba. Bukan Antagonis yang berwatak galak, menghentak - hentak dan ganas pedas. Yang kenyataannya berotak kadal Mars. Bukan juga yang berisikan tokoh Gadungan, yang semata - mata dapat dikendalikan layaknya Boneka. Memang, kuakui, dalam negeri ini banyak sekali Tikus Berdasi, Penjilat Jalanan dan Oknum Boneka. Tapi bukan berarti Negeri ini ladang konotasi. Kami punya banyak prestasi, Orang - orang yang berprestasi dan juga pencetus bermacam bentuk regenerasi.


Negeriku Bukan Panggung Teater.
Bukan lahan aktor yang diatur oleh Sutradara. Pemerintahan kami jelas. Mengemban visi dan misi nyata untuk Indonesia berjaya. Meski terjadi simpang siur, lemparan kerikil dan hujatan terhadap pemimpinnya. Bukan Negeri yang penuh properti kawakan. Yang menutupi keasliannya. Yang menutupi kepalsuannya. Kami berusaha untuk bergerak, mengusir para "Pembuat Properti" yang berusaha meraup "Lahan Negeri" untuk meninggikan keegoisan dirinya, kepentingannya semata.


Negeriku Bukan Panggung Teater. ... ...

Selasa, 10 Juni 2014

Lubang Di Dalam Hati

Kubuka mata dan kulihat dunia
Tlah kuterima anugerah cintaNya
Tak pernah aku menyesali yang kupunya
Tapi kusadari ada lubang dalam hati

Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Kumengira hanya dialah obatnya
Tapi kusadari bukan itu yang kucari

Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang kan mengisi lubang di dalam hati

By : Letto

Minggu, 08 Juni 2014

Ketika Mawar Itu Mekar ...

Kuncup mawar itu masih tampak mungil.
Pertama kali aku menemukannya, dia tertunduk malu di antara tebaran kelopak bunga di taman. Warnanya merah cerah. Begitu kecil. Begitu mungil. Kuambil, dan kutaruh dia dalam pot bersama bunga lainnya. Bersama itu, kuharap dia berusaha berjuang untuk mengejar cita - citanya yaitu mekar laksana mahkota nirwana yang berkilauan, betapa indahnya.

Lalu bunga itu mulai tumbuh.
Hari demi hari, dia tampak lebih tinggi. Dari yang dulunya mungil, kini terlihat lebih bisa membanggakan. Dia mulai belajar mengendalikan emosi. Saat dia sendirian, menghadap pada Tuhannya, emosinya padam. Menyatu bersama hidayah-Nya. Dia mulai belajar sabar. Tatkala hingga menjadi besar, sedikit demi sedikit kesabaran itu memupuk untuk menumbuhkan. Dia mulai belajar mandiri. Tekadnya yang tegar berdiri. Meski sempit tempatnya menyendiri, dia tak lelah hati untuk mengerti bagaimana luasnya dunia ini dapat dijalani. Dan dia mulai belajar menghargai. Menghargai waktu, mengisinya dengan kegiatan dan hal - hal yang bermanfaat, meski terkadang hal tersebut bukanlah tugas yang bisa dilakukannya saat itu.

Dan Ketika mawar itu Mekar.
Sungguh Keajaiban. Dia mekar begitu indahnya. Begitu anggunnya. Betapa sungguh, seperti Bidadari turun dari Surga tatkala itu merekah. Dia begitu cantik dan manis. Kelopak merahnya mekar melebar. Begitu merah warnanya. Bagai hati yang tengah bahagia. Meski tumbuh duri, itu untuk melindunginya dari segala mara bahaya. Menunjukkan dia mampu mengatasi segala permasalahannya yang dia terima. Meski terkadang berat, dia mampu tersenyum bersama kemekarannya. Dan Mawar itu indah, kukembalikan ia bersama bunga lainnya di taman sana. Meski aku tak bisa memiliki, setidaknya dia berada di tempat yang tepat. Tempat dia nyaman bersama teman - temannya.

Sabtu, 07 Juni 2014

Belum Sanggup Meninggalkan

Tahun ini dan pada periodeini, salah satu tempatku bernaung melakukan regenerasi. Ya, kegiatan yang mengikutsertakan berbagai angkatan dan tingkatan. Dari muda yang masih perlu banyak sekali bimbingan hingga tua yang sebentar lagi menempuh wisuda. Semua dituntut berpartisipasi untuk kelangsungan kepengurusan yang lebih baik nantinya, yang lebih bisa membawa kepemimpinan kedepannya.

Aku,
Aku berada di posisi harus meninggalkan.
Dan seraya aku belum sanggup.

Banyak yang bilang, masa - masa ini adalah masa kesenangan, masa kebahagiaan. Dimana aku dan seluruh kawanku nantinya akan digantikan oleh mereka yang muda, adik - adikku. Untuk belajar memegang tanggung jawab dan meraih kepemimpinan. Namun aku masih tak dapat tersenyum.

Dada ini masih terasa sesak saat harus sudah meninggalkan mereka. Aku harus beranjak dari tempatku duduk sekarang ini dan membiarkan mereka mendudukinya. Ini bukan perkara takmu pergi atau apalah. Aku hanya tak tega melihat mereka nantinya. Melihat mereka di atas angin dan harus menghadapi beberapa jenis hujan yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Kamu tahu, Aku belum mampu.
Merasa belum memberikan yang terbaik pada mereka.
Dan mereka dituntut untuk bisa. Sungguh.

Apakah aku harus tertawa ?
Ketika jabatan dipindahtangankan, sedangkan aku belum tahu apakah mereka nanti juga turut tertawa.
Apakah aku harus tersenyum ?
Meski terkadang dituntut untuk selalu senyum, dan nantinya juga kekhawatiran itu hanya berupa senyum.
Apakah aku harus bahagia ?
Turun tahta dan melihat mereka, adik - adikku, penerusku, melakukan yang sekadarnya bisa.

Apakah aku tak boleh menangis ?
Melihat mereka nanti menyesak tangis. Semua pekerjaan dan hasil tertepis dan terkikis.
Apakah aku tak boleh berteriak ?
Menghujam beban, menampar omongan kalian yang menyatakan aku harus senang penuh riak.
Apakah aku tak boleh gempar ?
Setiap kali berkata itu, pada akhirnya hanya kritik cemooh kan yang keluar.

Bukannya aku tak percaya pada adik - adikku yang manis.
Aku percaya. Bahkan sangat percaya bahwa nantinya mereka akan memimpin lebih baik dari pada aku dan generasiku. Namun, sebagai kakak aku hanya merasa khawatir pada apa yang aku lepas dan kupindahtangankan kepada mereka. Berharap saja. Nantinya mereka akan nyaman pada tingkatan itu, tidak mengeluh, meski hujan badai datang.

Tetap. Masih belum sanggup meninggalkan.
Meski aku tidak berada di dalam sistem, semoga tetap bisa mengontrol sistem.

# Rio Suryo W, Kepala Departemen Luar Negeri HIMA ELKA PENS 2013/2014

Jumat, 06 Juni 2014

Teman, Ya... Boleh Jadi.

Boleh jadi,
Kau meminta Matahari menemanimu lewati hari, tapi dia pasti pergi ketika senja datang. Apakah kau kecewa dengan perbuatannya ? Padahal dia tengah menuju sisi lain Bumi untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Setelah itu, akankah kau berprasangka buruk terhadapnya ? Hingga sampai tak menganggapnya teman ?. Meski Esok Hari dia tetap kembali bersamamu. Pikirkanlah.

Boleh jadi,
Kau meminta Bulan menjagamu dalam pekatnya malam, tapi kau tak melihatnya saat matamu terbuka tatkala pagi. Apakah kau berpikir dia meninggalkanmu ? Padahal dia tetap mengawasimu meski terhalang siang dan bayang Bumi. Setelah itu, akankah kau berpaling dari Purnama ? Hingga sampai menutup mata ?. Meski malam nantinya akan mengantarkan dia ke sampingmu. Renungkanlah.

Boleh jadi,
Kau meminta Bintang selalu menerangi aktivitasmu, tapi mereka terlihat padam saat awan mendung datang. Apakah kau pikir mereka sengaja sirna ? Padahal mereka tetap bersinar terang di antara sela - sela awan lepas. Setelah itu, akankah engkau merunduk tak menantinya ? Hingga tak ingin menatapnya lagi ?. Meski dia tetap menerangimu tak peduli siang ataupun malam. Resapilah.

Boleh jadi,
Semua ini apa yang kau rasakan dalam harimu. Pada temanmu. Bersama kawan dan sahabatmu. Pikirkan, renungkan dan resapi. Ketika mereka pergi dan sejenak menghilang dari atmosfer diri, belum tentu mereka hilang selamanya. Boleh jadi ada hal yang memang tak seharusnya kita ketahui.
Ya... Boleh jadi..


Author : Rio Suryo W

Senin, 02 Juni 2014

Akibat Sering RePost

Memposting postingan orang lain menjadi postingan kita, terkadang di Blog atau status jejaring sosial lainnya namun masih mencantumkan nama penulisnya sangatlah sering dilakukan apabila postingan tersebut memang sangat menarik minat kita. Istilahnya RePost. :D . RePost banyak sekali dilakukan oleh para blogger, orang yang suka baca, calon penulis dan banyak lagi yang punya hobi atau kegemaran dalam bidang sastra.

Efek RePost bisa mempegaruhi banyak orang dan berbagai aspek. Ketika RePost suatu posting milik orang lain, kalau kontennya mengena pasti di-Like. Apalagi yang sering posting di Facebook, langsung banyak yang nge-like dan comment. Contohnya ketika RePost status milik seorang penulis terkenal. Baru di-post saja, beberapa detik kemudian langsung berkerumun tuh yang para komentator – komentator seantero internet. Dan pertanyaannya di sini cuma satu, yang disukai itu postingan kita atau postingan seseorang yang kita RePost ? Ini perlu dipikirkan.

Ingat, apa yang disukai mereka bisa jadi bukan postingan kita, tapi apa yang kita posting, yang sejatinya memang bukan bikinan kita melainkan bikinan orang lain yang namanya juga sudah cukup terkenal. Memang RePost itu boleh dan tidak dilarang selama selalu mencatumkan nama dan bukanlah pembajakan. Tapi itu juga secara tidak langsung membatasi kita untuk berkreasi. Dengan memposting terlalu sering postingan orang lain, terlalu sering pula kita tidak mengkreasikan kreativitas kita. Perhatikanlah.

Aku juga sering melakukannya. Awal – awalnya juga nggak apa – apa.Namun lama – kelamaan aku jadi terjerumus dan sering meRePost. Dan tatkala itu ada yang menegurku mengenai postinganku, “Kalau pendapat sendiri pasti lebih keren”. Begitulah yang dikatakan ‘Sang Kritikus’. Jadinya aku mencoba sedikit demi sedikit mengurangi RePost. Agar aku bisa berkreasi dengan caraku.
Terima Kasih Sang Kritikus :D

Sabtu, 31 Mei 2014

Tidak Seperti Novel

Hidup ini tidak seperti novel, yang kalau halaman sekarang terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10, 20 halaman berikutnya semua selesai, berubah jadi membahagiakan.

Di kehidupan nyata, kita bahkan perlu 10, 20 hari, bulan, bahkan tahun harus terus bersabar agar semua selesai, berubah jadi membahagiakan. karena itulah, menjadi dewasa oleh kehidupan, memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan, akan menjadikan seseorang lebih kuat dan lebih kuat lagi.

# Tere Liye

Jumat, 30 Mei 2014

"Setidaknya"

Setidaknya, perhatikan hembusan angin yang melewatimu.
Bisa jadi, dia membawa berita penting untukmu, kabar genting yang menderu,
Menawar untuk melepaskan kegelisahan dalam hembus nafasmu,
Atau hanya kau anggap sebagai angin lalu ?

Setidaknya, ikuti air mengalir di antara sungai.
Bisa jadi, dia mengangkut berjuta perangai, yang masih kau andai - andai,
Yang masih menggantung gelayutan di tangkai - tangkai,
Atau kau mungkin memang tak mau memulai ?

Setidaknya, hapus kusam yang menempel di tembok jalan.
Bisa jadi, merekalah yang menghadang harapan, menutup jalan ke depan,
Hingga langkahmu tak maju ke kiri ataupun kanan,
Atau memang bagimu itu hanya perumpamaan ?

Setidaknya, jangan biarkan api itu membakar hebat.
Bisa jadi, dia bisa menimbulkan jerat, melahap prosesmu menangkap kilat,
Panasnya melahap kesenangan hari menjadi kesedihan kuat - kuat,
Atau kau pikir mereka itu tak bisa berbuat ?

Perhatikanlah, kawan.
Terkadang semua tak berjalan sesuai rencana pada awalnya.
Semua melihat dalam proses bersangkutan yang semestinya.
Tak mungkin kau merasa semilir tanpa angin berhembus dahulu.
Tak mungkin kau melihat hulu tanpa mengikuti arus hilir.
Tak mungkin kau paham bersih tanpa menghapus apa itu kusam.
Tak mungkin kau bisa memadamkan tanpa tahu cara mempertahankan.

Proses sungguh begitu penting.
Setidaknya, perhatikanlah dan jadilah insan yang bermanfaat.
Bagi diri dan sesamamu.


Author : Rio Suryo W

Senin, 26 Mei 2014

Yu-Gi-Oh! , Ending

Tabung kaca, Berkilau-kilauan
Aku menunggu di Lab Fisika
Tangan yang dingin Saling bertemu
Dengan begitu akan jadi terasa hangat

Siraman semangat
Aku ingin curahkannya padamu
Akan selalu kutopang dirimu
Yang kesepian itu

Siraman semangat
Kau tidaklah seorang diri
Lingkaran persahabatan kita
Kan slalu menjagamu

# Ending Yu-Gi-Oh!, Indonesia Version

Minggu, 25 Mei 2014

Shoot, OP 1

Setiap saat bayang slalu hadir menerpa
walau pikiranku slalu dipenuhi kebohongan
Namun semua membuatku sangat suka
Karna semua beban berat tak kurasakan

Rasa itu selalu ada dalam hatiku
Membuat gelora membara di setiap langkahku
Genggam erat semangat di setiap nafasku
Oh kini semuanya tlah mulai berubah

Kebahagiaan bukan kebohongan
Kan kubuktikan semuanya padamu
Bahwa diriku tak pernah berubah
Karna dirimu

Kepercayaan kunci kemenangan
Kan kutuliskan di dalam ingatan
Kau berikan sinar kekuatan
Hingga ku tegar

# Opening 1, Anime "Shoot", Indonesia Version

Sabtu, 24 Mei 2014

Ne Nande

Dicintai oleh dirimu, Bagai lukisan senja di sore hari
Setiap kali aku sedang berduka, Kau pasti yang slalu menghiburku

Di saat aku berjalan sendirian, kau selalu ada di belakangku

Walaupun kadang ku sakiti dirimu
Kau diam dan tetap menanti diriku

Katakanlah sesuatu pada diriku
Andaikan aku mampu melakukannya
Pasti akan ku balas kebaikanmu itu

Pasti akan selalu kulindungi dirimu
Tetapi kenapa, tapi kenapa
Tak pernah bisa kulakukan semua

# Ne Nande , Indonesia Version
:: Ending 1 , anime "Trouble Chocolate" ::

Jumat, 23 Mei 2014

10 Kepribadian Luar Biasa

1. TULUS -- Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.

2. RENDAH HATI -- Hanya orang yang kuat batinnya yang bisa bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

3. SETIA -- Orang yang setia bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak berkhianat.

4. POSITIVE THINKING -- Orang berpikiran positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun.

5. CERIA -- Artinya bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan.

6. TANGGUNG JAWAB -- Ia akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau salah, berani mengakuinya dan tidak mencari kesalahan orang lain.

7. PERCAYA DIRI -- Mampu menerima dirinya sebagaimana adanya,
menghargai dirinya dan orang lain. Juga mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.

8. BERJIWA BESAR -- Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar!

9. EASY GOING -- Maksudnya, tidak suka membesar-besarkan masalah kecil atau berusaha mengecilkan masalah besar. Dia tidak mau pusing dengan masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. EMPATI -- Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.
 

By : Hanifah Nur Aini

Air Mata

Menangis bukanlah sesuatu yang salah. Bukanlah sesuatu yang memalukan. Atau bahkan sesuatu yang dilarang. Menangis adalah ekspresi. Ketika semua masalah dan permasalahan serta cobaan yang menumpuk telah mencapai batasnya, saat kita sudah tak sanggup menahan sakitnya tepukan dari itu semua, terkadang air mata, dapat membawanya pergi bersama alirannya. Walau hanya sedikit mereka turut hanyut.

Keluarkan.
Keluarkan saja apa yang hendak kau keluhkan. Semua yang kau sedihkan dan semua yang menyakitkan. Keluarkan saja bersama air matamu. Dia akan sedikit mengurangi bebanmu. Atau kalau perlu, carilah sandaran untuk mengusir segala kegundahan. Banyak teman dan sahabat yang bisa kau elukan. Yang bisa kau singgahi untuk menetes sejenak.

Menangis saja. Keluarkan semua air matamu
Tapi jangan sampai air mata itu menunjukkan kelemahan, jadikan air mata itu untuk menunjukkan bahwa kamu kuat. Kuat menghadapi segala halang - rintang yang mengitari. Menangis memang boleh, dan terkadang diperlukan. Tapi jangan sampai terlarut dan terhanyut semakin dalam, sedalam isak tangis. Cukup sebentar saja. Dan bangkit kemudian. Menjadi lebih kuat.

Apakah menangis adalah tanda kelemahan ? Tidak juga.
Namun, kebanyakan orang yg melihat seseorang menangis, selalu beranggapan bahwa orang tersebut lemah. Sesungguhnya itu karena mereka tak dapat melihat arti dari air mata yg mengalir itu. Tak dapat melihat apa yg berada di balik bilik hati org itu. Tergantung apa yg kita tangisi dan untuk apa air mata ini ditangiskan, itulah yg menunjukkan kita lemah atau kuat.

Cukup sebentar. Cukup sebentar saja menangisnya. Jangan habiskan. Jangan keringkan semua sumber air matamu untuk hal yang tidak perlu, untuk hal yang tak cocok. Akan lebih baik jika air mata itu untuk hal yang membahagiakan dan spesial. Dan jangan biarkan air mata itu jatuh untuk orang yang sembarangan. Karena masih ada di sana yang berharap hanya untuknya air mata itu menetes. Dan berharap menjadi satu – satunya yang menangkap air matamu.

I wish that I could take it all away, and be the one who catches all your tears.

Author : Rio Suryo W

Sabtu, 17 Mei 2014

Engineer : Berkarya

Menjadi Engineer tidaklah membatasi kita dalam berkarya, bersastra, berkhayal, berimajinasi dan merealisasikan hobi. Yang mungkin tidak ada hubungannya dengan engineering.

Bisa saja kan. Seorang mahasiswa yang pada awalnya mereka tidak bermaksud untuk menjadi seorang engineer yang notabenenya selalu bergelut dalam bidang teknologi, terjebak dalam dunia engineer. Dan tidak semua mahasiswa ahli dalam hal tersebut. Meski semua itu bisa dipelajari sih. Tapi, terkadang hal tersebut malah membuat mahasiswa itu menjadi kaku dan hanya berenang - renang dalam kolam peraturan engneer.

Kalimat di atas menyatakan bahwa, meski berada dalam dunia engineering, bukan berarti kita harus mengubur dalam - dalam kesenangan dan keahlian kita. Dalam hal berkarya, tidak harus dalam bidang teknologi. Kita bisa membuat kerajinan, jika suka kreativitas. Mencetuskan produk makanan terbaru, jika hobi berwirausaha. Dan berkarya itu luas tak terbatas. Dalam hal bersastra, tak peduli siang malam, menulislah bagi yang suka menulis. Nilaikan tulisanmu, bisa jadi itu adalah jalan prestasi. Dan kalian yang suka bicara, bicaralah. Berpidato atau mengikuti serangkaian lomba debat. Meski Engineer kita tak boleh diam dan harus cakap. Dalam hal berkhayal, mungkin sebagian orang masih punya daya pemikiran seperti seorang anak kecil. Saat masuk dunia engineering dia tampak stress, karena terkadang dunia engineer berkecimpung dalam dunia logika. Tapi tetaplah berkhayal, karena tanpa itu hidup akan suram. Dalam hal berimajinasi, memanglah harus tetap dilakukan, imajinasi bisa memunculkan berbagai macam ide yang mungkin bisa terjadi di masa depan. Dan bicara soal hobi, lakukanlah. Jadikan hobimu ladang uang. Bisa jadi engineer malah akan tertarik dengan hobimu dan menguangkannya

Jadi, meski apa yang kau lakukan itu tak ada hubungannya dengan engineer, tetap lakukanlah. Selama itu ositif dan membuatmu nyaman serta tak mengganggu orang lain. ^_^

Kamis, 15 Mei 2014

Jangan Bilang

Jangan bilang Sayang, Kalau nantinya kau buang dan menghilang.
Jangan bilang Naksir, Kalau cuma terucap lewat bibir.
Jangan bilang Rindu, Kalau tak tahu makna dari merindu.
Jangan bilang Bahagia, Kalau hanya ingin pamer kekasih saja.
Jangan bilang Pengertian, Kalau kau tak paham yang namanya perasaan.

Jangan bilang Terluka, Kalau ternyata kaulah yang menggores luka.
Jangan bilang Patah Hati, Kalau dari awal kau memang punya “Hati”.
Jangan bilang Sakit, Kalau kesalahan dia yang selalu kau ungkit.
Jangan bilang Kecewa, Kalau tak bisa menerima dia apa adanya.
Jangan bilang Mati, Kalau tak mampu menjalani kisah sepenuh hati.

Jangan bilang Cinta, Kalau tak paham arti dari mencinta.
Jangan bilang Cinta, Kalau hanya karena keegoisanmu semata.
Jangan bilang Cinta, Kalau membuat dia terus menitikkan air mata.
Jangan bilang Cinta, Kalau tujuannya hanya harta, tahta dan permata.
Jangan bilang Cinta, Kalau janjimu ternyata hanyalah dusta.

Jangan bilang Punya Bekal, Kalau tak bisa menjalani cinta yang Halal.
Jangan bilang Setia, Kalau tak bisa mengajarkan dia tentang Agama.
Jangan bilang Suka, Kalau tak bisa menjauhkan dia dari pintu Neraka.
Jangan bilang Hakikat, Kalau tak bisa membimbingnya Dunia Akhirat.
Jangan bilang Selalu Menjaga, Kalau tak bisa menuntunnya menuju Surga.

Jangan bilang Kangen, Kalau ujungnya nggak bisa pegang Komitmen.
Jangan bilang Sempurna, Kalau akhirnya tak pernah ingin Melamarnya.
Jangan bilang Abadi Selamanya, Kalau nanti tak berani bertemu Orang Tuanya.
Jangan bilang Pengorbanan, Kalau kau tak berniat membawa dia ke Pelaminan.
Jangan bilang “I Love You”, Kalau nanti tak sanggup bilang “Aku ingin menikahimu”.


Author : Rio Suryo W

Selasa, 13 Mei 2014

Sungguh Menjengkelkan

Men-Tidak-kan yang sesungguhnya Iya.
Meng-Iya-kan yang sesungguhnya Tidak.
Menyalahkan yang sepatutnya benar.
Membenarkan yang seharusnya salah.

Sungguh, Kabut cermin ilusi ini,
Selalu menghantui Pikiran kotor manusia,
Melekat dan menempel susah sekali,
Hanya demi cari aman dan keegoisan semata.

 Author : Rio Suryo W

Senin, 12 Mei 2014

Rindu Itu Tak Ada "Bandrol"-nya

Rindu ....
Rindu adalah perasaan yang muncul ketika kita sangat ingin sekali bertemu dengan seseorang. Baik itu orang tua, teman, pacar, hewan peliharaan dan lain - lain. Tak pernah kita ketahui kapan rindu itu akan datang. Tanpa kompromi. Tiba - tiba dia sudah ada di depan mengetuk pintu hati kita. Membawa aroma seseorang yang membuat kita ingin sekali bertemu dengannya. Seseorang yang selalu mengisi pikiran kita dengan nama dan semua tentangnya. Duh, betapa Rindunya.

Di saat - saat itu, biasanya muncul pada seseorang yang sedang Jatuh Cinta. Aduhai, betapa indahnya Cinta itu. Rindu itu begitu membiru. Membekas kuat di sanubari, laksana Stiker yang sudah bisa ditempel ditambah lem lagi. Melekat kuat. Jadinya kita ingin selalu memiliki, memendam serta mencurahkan semua Rindu yang siap meledak ini. Rindu yang siap mekar dan menaburkan serbuk sarinya kepada dunia dan kumbang - kumbang yang tengah bersembunyi dibalik dedaunan.

Ngomong - ngomong soal rindu, bisa dikatakan rindu itu juga kebutuhan. Ibarat bahan pokok, rindu pasti sangat harus dimiliki oleh setiap orang yang sedang jatuh cinta. Untung saja rindu ini gratis. Jadi setiap saat kita bisa merindu tanpa khawatir memikirkan berapa harga yang perlu kita beli hanya untuk memiliki sekecil rindu. Jikalau rindu itu punya label harga atau yang biasa disebut dengan Bandrol maka bayangkan saja, jika 1 rindu dihargai 1000 Rupiah, dikalikan jumlah rindu kita perharinya, dikali perbulannya, tahun, banyaknya umur kita. Wow, sudah banyak sekali rupiah yang kita keluarkan untuk membeli berkantong - kantong rindu. Tapi untunglah rindu itu tak ada bandrolnya. Jadi kita bebas sebebas - bebasnya merindu. Hahaha.

Namun jangan salah. Meski suatu saat nanti, Rindu itu akan berbandrol nantinya, pasti mereka yang amat jatuh cinta dan ingin merindukan seseorang akan membeli tak peduli berapapun harga rindu itu sendiri. Bahkan mereka mungkin bekerja mati - matian hanya untuk membeli sepotong rindu. Tak peduli rindu itu dijual oleh pedagang yang mengarungi 7 lautan. Tak peduli dimanapun toko rindu itu bersembunyi di reruntuhan. Tak peduli itu di puncak Himalaya pun, mereka pasti akan membeli dengan harga yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Bahkan bisa jadi rebutan. Hahaha.
Sungguh menggelitik sekali.

Tapi untungnya rindu yang hakikatnya sangat indah itu tak ada "Bandrol"-nya. Jadi kita bisa menikmati rindu tanpa harus memikirkan berapa harga perasaan itu. Dan rindu pun akan terobati nantinya dan indah pada waktunya.

Minggu, 11 Mei 2014

Ruang Rindu

Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada

Jalanku hampa dan kusentuh dia
Terasa hangat di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua kulihatnya pergi

Tak pernah kuragu dan selalu kuingat
Kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna
Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada

Kau datang dan pergi begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu

# Letto, "Ruang Rindu"
:: Di Ruang Rindu Kita Bertemu :D ::

Sabtu, 10 Mei 2014

Terima Kasih Kampus Teknik

Kampus teknik mengajarkanku tentang pentingnya kebersamaan.
Tentang non diskriminasi gender laki-laki dan perempuan, solidaritas antar rekan yang berujung persahabatan erat hingga persaudaraan.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa waktu itu penting.
Tentang bekerja keras setiap hari, pagi siang malam bahkan sampai pagi lagi, mengerjakan sesuatu dengan cepat dan teliti, yang seringkali dikarenakan deadline yang singkat tak peduli situasi dan kondisi pribadi.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa analisa itu perlu.
Tentang proses yang tak boleh lambat, pengukuran yang akurat, perhitungan prosentase kesalahan dengan tepat, dan algoritma pemikiran yang sistematis serta cermat.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa kreatifitas itu nomor satu.
Tentang analisa kelebihan dan kekurangan teknologi yang selalu berubah seiring berjalannya waktu, mengharuskan untuk berinovasi menghasilkan produk yang baru.

Seringkali orang awam berpikir kampus teknik itu kaku, lihat saja gedungnya yang mayoritas bersudut siku, masyarakatnya yang beraktifitas tak kenal waktu, tapi merekalah calon punggawa teknologi terbaru, senantiasa menganalisa dan belajar dari masa lalu, menghasilkan sesuatu yang berguna bagi hidupmu bahkan anak cucumu.

Kampus teknik beralmamater abu-abu, terima kasih telah membimbing dan mendewasakanku.

Author : Febrina Anggita

Jumat, 09 Mei 2014

Kaktus

Panas ....
Sinar mentari selalu menyengat ubun - ubun.
Membakar bersama suhunya yang tinggi.
Tak peduli dimanapun.
Bahkan di padang gersang sekalipun.

Dingin ....
Begitu menusuk, ketika bulan dan bintang muncul.
Di kala malam menyelimuti kalbu.
Ketika angin berhembus bebas.
Ketika suara sunyi senyap.

Itu yang kurasa, itu yang kurasa ...
Itu yang kurasa, setip harinya ...

Aku sendiri di tanah terasing.
Tanah tak terjamah, bersama hamparan pasir nan luas.
Aku sendiri di kebun mati.
Kebun yang sepi, hanya jenisku yang dapat tumbuh.
Aku sendiri di kekeringan.
Saat sang air enggan, melintas di bawah kaki - kakiku.
Aku tertawa di keheningan.
Saat tak ada siapa - siapa yang mendengar dan di dengar.

Aku kaktus kecil, mungil.
Berharap uluranmu, berharap kasihmu,
Berharap candaanmu, tapi apalah aku di padang gersang .
Aku kaktus hijau, pucat.
Energi yang terkuras, melawan panas dingin kejam.
Atmosfer terarah yang tiada arah.
Aku kaktus berduri, tajam.
Kulitku, tatapanku, ucapanku.
Semuanya pasti tersakiti kala menyentuhku.
Aku kaktus sebatang kara, Bebas.
Berdiri sejenak, sekelilingku kosong tiada bekas.
Ingin berlari tak bisa, bebas yang tertahan.

Berharap aku selalu bugar.
Tanpa kering yang menghantui.
Meski aku, punya bekal untuk digunakan.
Berharap hujan menets deras.
Membanjiri lahan aku berpijak.
Meski aku, harus membusuk menampung air.

Aku hanyalah kaktus.
Kaktus yang berjuang untuk menunggu.
Hancur di alam dengan segala kekuatannya.
Ataukah hancur di pot dengan energi tak berukuran.
Aku hanyalah kaktus... Itu saja...