Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2014

Teman, Ya... Boleh Jadi.

Boleh jadi,
Kau meminta Matahari menemanimu lewati hari, tapi dia pasti pergi ketika senja datang. Apakah kau kecewa dengan perbuatannya ? Padahal dia tengah menuju sisi lain Bumi untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Setelah itu, akankah kau berprasangka buruk terhadapnya ? Hingga sampai tak menganggapnya teman ?. Meski Esok Hari dia tetap kembali bersamamu. Pikirkanlah.

Boleh jadi,
Kau meminta Bulan menjagamu dalam pekatnya malam, tapi kau tak melihatnya saat matamu terbuka tatkala pagi. Apakah kau berpikir dia meninggalkanmu ? Padahal dia tetap mengawasimu meski terhalang siang dan bayang Bumi. Setelah itu, akankah kau berpaling dari Purnama ? Hingga sampai menutup mata ?. Meski malam nantinya akan mengantarkan dia ke sampingmu. Renungkanlah.

Boleh jadi,
Kau meminta Bintang selalu menerangi aktivitasmu, tapi mereka terlihat padam saat awan mendung datang. Apakah kau pikir mereka sengaja sirna ? Padahal mereka tetap bersinar terang di antara sela - sela awan lepas. Setelah itu, akankah engkau merunduk tak menantinya ? Hingga tak ingin menatapnya lagi ?. Meski dia tetap menerangimu tak peduli siang ataupun malam. Resapilah.

Boleh jadi,
Semua ini apa yang kau rasakan dalam harimu. Pada temanmu. Bersama kawan dan sahabatmu. Pikirkan, renungkan dan resapi. Ketika mereka pergi dan sejenak menghilang dari atmosfer diri, belum tentu mereka hilang selamanya. Boleh jadi ada hal yang memang tak seharusnya kita ketahui.
Ya... Boleh jadi..


Author : Rio Suryo W

Jumat, 30 Mei 2014

"Setidaknya"

Setidaknya, perhatikan hembusan angin yang melewatimu.
Bisa jadi, dia membawa berita penting untukmu, kabar genting yang menderu,
Menawar untuk melepaskan kegelisahan dalam hembus nafasmu,
Atau hanya kau anggap sebagai angin lalu ?

Setidaknya, ikuti air mengalir di antara sungai.
Bisa jadi, dia mengangkut berjuta perangai, yang masih kau andai - andai,
Yang masih menggantung gelayutan di tangkai - tangkai,
Atau kau mungkin memang tak mau memulai ?

Setidaknya, hapus kusam yang menempel di tembok jalan.
Bisa jadi, merekalah yang menghadang harapan, menutup jalan ke depan,
Hingga langkahmu tak maju ke kiri ataupun kanan,
Atau memang bagimu itu hanya perumpamaan ?

Setidaknya, jangan biarkan api itu membakar hebat.
Bisa jadi, dia bisa menimbulkan jerat, melahap prosesmu menangkap kilat,
Panasnya melahap kesenangan hari menjadi kesedihan kuat - kuat,
Atau kau pikir mereka itu tak bisa berbuat ?

Perhatikanlah, kawan.
Terkadang semua tak berjalan sesuai rencana pada awalnya.
Semua melihat dalam proses bersangkutan yang semestinya.
Tak mungkin kau merasa semilir tanpa angin berhembus dahulu.
Tak mungkin kau melihat hulu tanpa mengikuti arus hilir.
Tak mungkin kau paham bersih tanpa menghapus apa itu kusam.
Tak mungkin kau bisa memadamkan tanpa tahu cara mempertahankan.

Proses sungguh begitu penting.
Setidaknya, perhatikanlah dan jadilah insan yang bermanfaat.
Bagi diri dan sesamamu.


Author : Rio Suryo W

Selasa, 13 Mei 2014

Sungguh Menjengkelkan

Men-Tidak-kan yang sesungguhnya Iya.
Meng-Iya-kan yang sesungguhnya Tidak.
Menyalahkan yang sepatutnya benar.
Membenarkan yang seharusnya salah.

Sungguh, Kabut cermin ilusi ini,
Selalu menghantui Pikiran kotor manusia,
Melekat dan menempel susah sekali,
Hanya demi cari aman dan keegoisan semata.

 Author : Rio Suryo W

Jumat, 09 Mei 2014

Kaktus

Panas ....
Sinar mentari selalu menyengat ubun - ubun.
Membakar bersama suhunya yang tinggi.
Tak peduli dimanapun.
Bahkan di padang gersang sekalipun.

Dingin ....
Begitu menusuk, ketika bulan dan bintang muncul.
Di kala malam menyelimuti kalbu.
Ketika angin berhembus bebas.
Ketika suara sunyi senyap.

Itu yang kurasa, itu yang kurasa ...
Itu yang kurasa, setip harinya ...

Aku sendiri di tanah terasing.
Tanah tak terjamah, bersama hamparan pasir nan luas.
Aku sendiri di kebun mati.
Kebun yang sepi, hanya jenisku yang dapat tumbuh.
Aku sendiri di kekeringan.
Saat sang air enggan, melintas di bawah kaki - kakiku.
Aku tertawa di keheningan.
Saat tak ada siapa - siapa yang mendengar dan di dengar.

Aku kaktus kecil, mungil.
Berharap uluranmu, berharap kasihmu,
Berharap candaanmu, tapi apalah aku di padang gersang .
Aku kaktus hijau, pucat.
Energi yang terkuras, melawan panas dingin kejam.
Atmosfer terarah yang tiada arah.
Aku kaktus berduri, tajam.
Kulitku, tatapanku, ucapanku.
Semuanya pasti tersakiti kala menyentuhku.
Aku kaktus sebatang kara, Bebas.
Berdiri sejenak, sekelilingku kosong tiada bekas.
Ingin berlari tak bisa, bebas yang tertahan.

Berharap aku selalu bugar.
Tanpa kering yang menghantui.
Meski aku, punya bekal untuk digunakan.
Berharap hujan menets deras.
Membanjiri lahan aku berpijak.
Meski aku, harus membusuk menampung air.

Aku hanyalah kaktus.
Kaktus yang berjuang untuk menunggu.
Hancur di alam dengan segala kekuatannya.
Ataukah hancur di pot dengan energi tak berukuran.
Aku hanyalah kaktus... Itu saja...

Rabu, 30 April 2014

Bunga

Senyuman itu begitu menyejukkan.

Engkau yang tumbuh bersama rumpun padi.
Mekar merekah, di antara ilalang – ilalang yang tinggi menjulang. Bersama bulir padi yang kering menguning, melantunkan syair kehidupan yang tumbuhkan keyakinan. Laksana mentari di nadi senja yang terbenam di balik reruntuhan.

Engkau berbinar di antara warna.
Indah. Terpancar kuat pesona mahkota yang kau berikan. Secerah itu, warnamu tak pernah redup, meski Mega bercampur menjadi gelap. Halangi cahaya. Namun terangmu tetap mempesona. Terbangkan angan melayang – layang di angkasa.

Engkau setangkai yang teguh berjuang.
Menapak jejaki Bumi. Hadapi segala panas hujan serta badai. Berjuta musim datang engkau tepis dengan semangat dan pengorbanan, dengan ilmu dan keberanian. Menghalau halang rintang, untuk mekar dan berkembang lebih, bersama kawan dan para sahabat.

Engkau semerbak mengisi ruang udara.
Keharumanmu, melebur bersama kelopak yang berterbangan. Berhembus di setiap helai dedaunan yang melambai malu. Namamu, selalu terbersit dalam nafas terhembus, dalam angin malam, dalam mimpi, imajinasi dan keajaiban, serta perasaan.

Engkau yang elok dalam pikiran.
Selalu. Munculkan bayang – bayang tulus. Bayang – bayang lucu. Bayang – bayang lugu. Dan khayalan penuh kilauan kelabu. Akarmu tertancap kuat dalam akal. Daunmu bertebaran lebat mengerumuni setiap sudut imajinasiku.

Engkau yang tumbuh di dalam hati.
Sejukkan diriku. Senyumkan hari – hari. Mengetuk kehampaan ruang kosong di sudut gelap tak bercahaya. Memberi semangat, meski hanya sekedip mata yang kau pancarkan. Aku ingin mengingat semuanya. Dan tak ingin kehilangannya.

Jadi, Bolehkah aku memetikmu ?

Selasa, 22 April 2014

Memilikimu

*Memilikimu

Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

Author : Tere Liye

Memilikimu

Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

# Tere Liye

Sabtu, 05 April 2014

Mawar

Mawar, Bunga yang begitu indah.
Lambang cinta dan kebahagiaan.
Mahkotanya, adalah Permata dan pengetahuan yang begitu luas.
Tangkai duri, merupakan perlindungan dan ketegaran hati yang kuat.
Kasih Sayang, yang membuatnya indah laksana berkah.
Dan Perjuanganlah, yang mengharumkan nama Sang Mawar.
Hingga saat ini, Hingga detik ini .....

Author : Rio Suryo W

Jumat, 04 April 2014

Pantulan Cermin

Cermin.
Menunjukkan Siapa kita sebenarnya.
Memperlihatkan Apa kita sebenarnya.
Mengingatkan Bagaimana kita seharusnya.
Memantulkan Kelakuan kita Setiap harinya.

Dunia hanya ilusi, Dunia tiadalah abadi.
Mari kita bercermin dan berbenah diri.
Menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Author : Rio Suryo W

Rabu, 02 April 2014

Fantasia

Hai, hari ini sang surya tersenyum bersama pagi.
Merpati dan Kenari bernyanyi bersahutan.
Melantunkan nada tetesan embun pagi berjatuhan.

Hai, pintu imajinasi terbuka lebar di ufuk mata.
Ayo berlari, terbang, dan tersenyumlah.
Aku melihat, air mata dibalik senyummu itu.

Lihat, Apakah itu ?
Sebuah Istana
Istana berkemilauan es menghiasinya.
Istana dengan senyum mentari dan senja hari.

Lihat, Apakah itu ?
Seekor kuda putih
Kuda seputih butiran salju Antartika
Kuda secepat hembusan dan kegembiraan.

Dan Lihat, Siapakah itu ?
Selayaknya kita, selayaknya mereka.
Tengah duduk bertahta mahkota.
Bergandeng menyongsong negeri Permata.

Dan Lihatlah, Dimanakah itu ?
Di ujung masa depan.
Cerah, hangat, terisikan jutaan emosi.
Hasrat, serta kilauan cahaya Bumi Fantasi.


Author : Rio Suryo W

Kamis, 02 Januari 2014

Pantulan Cermin

Aku dilahirkan sebagai aku, sebagai diriku sendiri.
bukan sebagai kamu, dia, bahkan mereka.
Begitu pula kalian semua yang telah dilahirkan.
Karena tiap manusia punya peran khusus di bumi.
Bersama kelebihan dan kekurangannya...

Minggu, 12 Mei 2013

Di Penantianku

Aku berpikir kalau aku sendirian
Tak seorangpun di sini bersamaku
Aku butuh seseorang
Untuk bermain denganku
Seseorang yang dapat mengerti aku
Seseorang yang dimana bisa
Menemaniku
Di waktu suka dan di waktu duka
Penyembuh akan kesunyian
Pengusir akan kesepian
Dan tempat untuk melepas kegundahan

Aku berpikir suatu saat
Aku akan menemukan seseorang itu
Seseorang yang istimewa
Seseorang yang senantiasa
Bersamaku …
Menemaniku setiap saat setiap waktu
Ku menunggu hari itu
Hari di mana Aku
Tidak sendirian, tidak kesepian
Tidak terhanyut dalam kesunyian
Hari di mana aku merasakan kebahagiaan

Kangen

Terbenam dalam kesepian
Ku menunggu dan menanti
Seorang gadis yang menawan
Sejenak dia membuat hatiku ini
Kangen akan dirinya…

Pandangannya yang indah bagai mentari
Cahaya sinar wajahnya begitu berseri
Sesekali dia menarik senyum yang indah sekali
Serasa menenangkan gejolak hati
Suaranya yang merdu …
Mengusir rasa kesunyian

Ku tulis surat penuh kangen untuknya
Ku terbangkan dengan merpati putih
Sepucuk surat pun datang untuk ku
Kata – kata yang indah darinya
Seakan meluluhkan batu karang hatiku
Ku kangen akan dirinya
Ku berharap dia cepat pulang
Mengisi kembali lubang rindu hati ini