Tampilkan postingan dengan label Luapan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luapan Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2014

Belum Sanggup Meninggalkan

Tahun ini dan pada periodeini, salah satu tempatku bernaung melakukan regenerasi. Ya, kegiatan yang mengikutsertakan berbagai angkatan dan tingkatan. Dari muda yang masih perlu banyak sekali bimbingan hingga tua yang sebentar lagi menempuh wisuda. Semua dituntut berpartisipasi untuk kelangsungan kepengurusan yang lebih baik nantinya, yang lebih bisa membawa kepemimpinan kedepannya.

Aku,
Aku berada di posisi harus meninggalkan.
Dan seraya aku belum sanggup.

Banyak yang bilang, masa - masa ini adalah masa kesenangan, masa kebahagiaan. Dimana aku dan seluruh kawanku nantinya akan digantikan oleh mereka yang muda, adik - adikku. Untuk belajar memegang tanggung jawab dan meraih kepemimpinan. Namun aku masih tak dapat tersenyum.

Dada ini masih terasa sesak saat harus sudah meninggalkan mereka. Aku harus beranjak dari tempatku duduk sekarang ini dan membiarkan mereka mendudukinya. Ini bukan perkara takmu pergi atau apalah. Aku hanya tak tega melihat mereka nantinya. Melihat mereka di atas angin dan harus menghadapi beberapa jenis hujan yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Kamu tahu, Aku belum mampu.
Merasa belum memberikan yang terbaik pada mereka.
Dan mereka dituntut untuk bisa. Sungguh.

Apakah aku harus tertawa ?
Ketika jabatan dipindahtangankan, sedangkan aku belum tahu apakah mereka nanti juga turut tertawa.
Apakah aku harus tersenyum ?
Meski terkadang dituntut untuk selalu senyum, dan nantinya juga kekhawatiran itu hanya berupa senyum.
Apakah aku harus bahagia ?
Turun tahta dan melihat mereka, adik - adikku, penerusku, melakukan yang sekadarnya bisa.

Apakah aku tak boleh menangis ?
Melihat mereka nanti menyesak tangis. Semua pekerjaan dan hasil tertepis dan terkikis.
Apakah aku tak boleh berteriak ?
Menghujam beban, menampar omongan kalian yang menyatakan aku harus senang penuh riak.
Apakah aku tak boleh gempar ?
Setiap kali berkata itu, pada akhirnya hanya kritik cemooh kan yang keluar.

Bukannya aku tak percaya pada adik - adikku yang manis.
Aku percaya. Bahkan sangat percaya bahwa nantinya mereka akan memimpin lebih baik dari pada aku dan generasiku. Namun, sebagai kakak aku hanya merasa khawatir pada apa yang aku lepas dan kupindahtangankan kepada mereka. Berharap saja. Nantinya mereka akan nyaman pada tingkatan itu, tidak mengeluh, meski hujan badai datang.

Tetap. Masih belum sanggup meninggalkan.
Meski aku tidak berada di dalam sistem, semoga tetap bisa mengontrol sistem.

# Rio Suryo W, Kepala Departemen Luar Negeri HIMA ELKA PENS 2013/2014

Jumat, 23 Mei 2014

Air Mata

Menangis bukanlah sesuatu yang salah. Bukanlah sesuatu yang memalukan. Atau bahkan sesuatu yang dilarang. Menangis adalah ekspresi. Ketika semua masalah dan permasalahan serta cobaan yang menumpuk telah mencapai batasnya, saat kita sudah tak sanggup menahan sakitnya tepukan dari itu semua, terkadang air mata, dapat membawanya pergi bersama alirannya. Walau hanya sedikit mereka turut hanyut.

Keluarkan.
Keluarkan saja apa yang hendak kau keluhkan. Semua yang kau sedihkan dan semua yang menyakitkan. Keluarkan saja bersama air matamu. Dia akan sedikit mengurangi bebanmu. Atau kalau perlu, carilah sandaran untuk mengusir segala kegundahan. Banyak teman dan sahabat yang bisa kau elukan. Yang bisa kau singgahi untuk menetes sejenak.

Menangis saja. Keluarkan semua air matamu
Tapi jangan sampai air mata itu menunjukkan kelemahan, jadikan air mata itu untuk menunjukkan bahwa kamu kuat. Kuat menghadapi segala halang - rintang yang mengitari. Menangis memang boleh, dan terkadang diperlukan. Tapi jangan sampai terlarut dan terhanyut semakin dalam, sedalam isak tangis. Cukup sebentar saja. Dan bangkit kemudian. Menjadi lebih kuat.

Apakah menangis adalah tanda kelemahan ? Tidak juga.
Namun, kebanyakan orang yg melihat seseorang menangis, selalu beranggapan bahwa orang tersebut lemah. Sesungguhnya itu karena mereka tak dapat melihat arti dari air mata yg mengalir itu. Tak dapat melihat apa yg berada di balik bilik hati org itu. Tergantung apa yg kita tangisi dan untuk apa air mata ini ditangiskan, itulah yg menunjukkan kita lemah atau kuat.

Cukup sebentar. Cukup sebentar saja menangisnya. Jangan habiskan. Jangan keringkan semua sumber air matamu untuk hal yang tidak perlu, untuk hal yang tak cocok. Akan lebih baik jika air mata itu untuk hal yang membahagiakan dan spesial. Dan jangan biarkan air mata itu jatuh untuk orang yang sembarangan. Karena masih ada di sana yang berharap hanya untuknya air mata itu menetes. Dan berharap menjadi satu – satunya yang menangkap air matamu.

I wish that I could take it all away, and be the one who catches all your tears.

Author : Rio Suryo W

Kamis, 15 Mei 2014

Jangan Bilang

Jangan bilang Sayang, Kalau nantinya kau buang dan menghilang.
Jangan bilang Naksir, Kalau cuma terucap lewat bibir.
Jangan bilang Rindu, Kalau tak tahu makna dari merindu.
Jangan bilang Bahagia, Kalau hanya ingin pamer kekasih saja.
Jangan bilang Pengertian, Kalau kau tak paham yang namanya perasaan.

Jangan bilang Terluka, Kalau ternyata kaulah yang menggores luka.
Jangan bilang Patah Hati, Kalau dari awal kau memang punya “Hati”.
Jangan bilang Sakit, Kalau kesalahan dia yang selalu kau ungkit.
Jangan bilang Kecewa, Kalau tak bisa menerima dia apa adanya.
Jangan bilang Mati, Kalau tak mampu menjalani kisah sepenuh hati.

Jangan bilang Cinta, Kalau tak paham arti dari mencinta.
Jangan bilang Cinta, Kalau hanya karena keegoisanmu semata.
Jangan bilang Cinta, Kalau membuat dia terus menitikkan air mata.
Jangan bilang Cinta, Kalau tujuannya hanya harta, tahta dan permata.
Jangan bilang Cinta, Kalau janjimu ternyata hanyalah dusta.

Jangan bilang Punya Bekal, Kalau tak bisa menjalani cinta yang Halal.
Jangan bilang Setia, Kalau tak bisa mengajarkan dia tentang Agama.
Jangan bilang Suka, Kalau tak bisa menjauhkan dia dari pintu Neraka.
Jangan bilang Hakikat, Kalau tak bisa membimbingnya Dunia Akhirat.
Jangan bilang Selalu Menjaga, Kalau tak bisa menuntunnya menuju Surga.

Jangan bilang Kangen, Kalau ujungnya nggak bisa pegang Komitmen.
Jangan bilang Sempurna, Kalau akhirnya tak pernah ingin Melamarnya.
Jangan bilang Abadi Selamanya, Kalau nanti tak berani bertemu Orang Tuanya.
Jangan bilang Pengorbanan, Kalau kau tak berniat membawa dia ke Pelaminan.
Jangan bilang “I Love You”, Kalau nanti tak sanggup bilang “Aku ingin menikahimu”.


Author : Rio Suryo W

Senin, 12 Mei 2014

Rindu Itu Tak Ada "Bandrol"-nya

Rindu ....
Rindu adalah perasaan yang muncul ketika kita sangat ingin sekali bertemu dengan seseorang. Baik itu orang tua, teman, pacar, hewan peliharaan dan lain - lain. Tak pernah kita ketahui kapan rindu itu akan datang. Tanpa kompromi. Tiba - tiba dia sudah ada di depan mengetuk pintu hati kita. Membawa aroma seseorang yang membuat kita ingin sekali bertemu dengannya. Seseorang yang selalu mengisi pikiran kita dengan nama dan semua tentangnya. Duh, betapa Rindunya.

Di saat - saat itu, biasanya muncul pada seseorang yang sedang Jatuh Cinta. Aduhai, betapa indahnya Cinta itu. Rindu itu begitu membiru. Membekas kuat di sanubari, laksana Stiker yang sudah bisa ditempel ditambah lem lagi. Melekat kuat. Jadinya kita ingin selalu memiliki, memendam serta mencurahkan semua Rindu yang siap meledak ini. Rindu yang siap mekar dan menaburkan serbuk sarinya kepada dunia dan kumbang - kumbang yang tengah bersembunyi dibalik dedaunan.

Ngomong - ngomong soal rindu, bisa dikatakan rindu itu juga kebutuhan. Ibarat bahan pokok, rindu pasti sangat harus dimiliki oleh setiap orang yang sedang jatuh cinta. Untung saja rindu ini gratis. Jadi setiap saat kita bisa merindu tanpa khawatir memikirkan berapa harga yang perlu kita beli hanya untuk memiliki sekecil rindu. Jikalau rindu itu punya label harga atau yang biasa disebut dengan Bandrol maka bayangkan saja, jika 1 rindu dihargai 1000 Rupiah, dikalikan jumlah rindu kita perharinya, dikali perbulannya, tahun, banyaknya umur kita. Wow, sudah banyak sekali rupiah yang kita keluarkan untuk membeli berkantong - kantong rindu. Tapi untunglah rindu itu tak ada bandrolnya. Jadi kita bebas sebebas - bebasnya merindu. Hahaha.

Namun jangan salah. Meski suatu saat nanti, Rindu itu akan berbandrol nantinya, pasti mereka yang amat jatuh cinta dan ingin merindukan seseorang akan membeli tak peduli berapapun harga rindu itu sendiri. Bahkan mereka mungkin bekerja mati - matian hanya untuk membeli sepotong rindu. Tak peduli rindu itu dijual oleh pedagang yang mengarungi 7 lautan. Tak peduli dimanapun toko rindu itu bersembunyi di reruntuhan. Tak peduli itu di puncak Himalaya pun, mereka pasti akan membeli dengan harga yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Bahkan bisa jadi rebutan. Hahaha.
Sungguh menggelitik sekali.

Tapi untungnya rindu yang hakikatnya sangat indah itu tak ada "Bandrol"-nya. Jadi kita bisa menikmati rindu tanpa harus memikirkan berapa harga perasaan itu. Dan rindu pun akan terobati nantinya dan indah pada waktunya.

Sabtu, 10 Mei 2014

Terima Kasih Kampus Teknik

Kampus teknik mengajarkanku tentang pentingnya kebersamaan.
Tentang non diskriminasi gender laki-laki dan perempuan, solidaritas antar rekan yang berujung persahabatan erat hingga persaudaraan.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa waktu itu penting.
Tentang bekerja keras setiap hari, pagi siang malam bahkan sampai pagi lagi, mengerjakan sesuatu dengan cepat dan teliti, yang seringkali dikarenakan deadline yang singkat tak peduli situasi dan kondisi pribadi.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa analisa itu perlu.
Tentang proses yang tak boleh lambat, pengukuran yang akurat, perhitungan prosentase kesalahan dengan tepat, dan algoritma pemikiran yang sistematis serta cermat.

Kampus teknik mengajarkanku bahwa kreatifitas itu nomor satu.
Tentang analisa kelebihan dan kekurangan teknologi yang selalu berubah seiring berjalannya waktu, mengharuskan untuk berinovasi menghasilkan produk yang baru.

Seringkali orang awam berpikir kampus teknik itu kaku, lihat saja gedungnya yang mayoritas bersudut siku, masyarakatnya yang beraktifitas tak kenal waktu, tapi merekalah calon punggawa teknologi terbaru, senantiasa menganalisa dan belajar dari masa lalu, menghasilkan sesuatu yang berguna bagi hidupmu bahkan anak cucumu.

Kampus teknik beralmamater abu-abu, terima kasih telah membimbing dan mendewasakanku.

Author : Febrina Anggita

Rabu, 30 April 2014

Bunga

Senyuman itu begitu menyejukkan.

Engkau yang tumbuh bersama rumpun padi.
Mekar merekah, di antara ilalang – ilalang yang tinggi menjulang. Bersama bulir padi yang kering menguning, melantunkan syair kehidupan yang tumbuhkan keyakinan. Laksana mentari di nadi senja yang terbenam di balik reruntuhan.

Engkau berbinar di antara warna.
Indah. Terpancar kuat pesona mahkota yang kau berikan. Secerah itu, warnamu tak pernah redup, meski Mega bercampur menjadi gelap. Halangi cahaya. Namun terangmu tetap mempesona. Terbangkan angan melayang – layang di angkasa.

Engkau setangkai yang teguh berjuang.
Menapak jejaki Bumi. Hadapi segala panas hujan serta badai. Berjuta musim datang engkau tepis dengan semangat dan pengorbanan, dengan ilmu dan keberanian. Menghalau halang rintang, untuk mekar dan berkembang lebih, bersama kawan dan para sahabat.

Engkau semerbak mengisi ruang udara.
Keharumanmu, melebur bersama kelopak yang berterbangan. Berhembus di setiap helai dedaunan yang melambai malu. Namamu, selalu terbersit dalam nafas terhembus, dalam angin malam, dalam mimpi, imajinasi dan keajaiban, serta perasaan.

Engkau yang elok dalam pikiran.
Selalu. Munculkan bayang – bayang tulus. Bayang – bayang lucu. Bayang – bayang lugu. Dan khayalan penuh kilauan kelabu. Akarmu tertancap kuat dalam akal. Daunmu bertebaran lebat mengerumuni setiap sudut imajinasiku.

Engkau yang tumbuh di dalam hati.
Sejukkan diriku. Senyumkan hari – hari. Mengetuk kehampaan ruang kosong di sudut gelap tak bercahaya. Memberi semangat, meski hanya sekedip mata yang kau pancarkan. Aku ingin mengingat semuanya. Dan tak ingin kehilangannya.

Jadi, Bolehkah aku memetikmu ?

Kamis, 10 April 2014

Rambut Ayah Dan Ibu Mulai Memutih

Engkau ingat, Ibu, Engkau mengandungku dari aku masih janin hingga aku bayi, 9 bulan lamanya dalam rahimmu. Tak pernah kau gusar merawatku. Tak pernah kau menyesal akan kehadiranku. Tak pernah marah meski sesekali ku menendang – nendang dalam perutmu. Justru Engkau tersenyum bahagia sekali dengan tingkahku.
Engkau Ingat, Ayah, Engkau berkerja banting tulang. Mencari penghidupan demi menjaga asupan untuk diriku. Yang tengah bertanya – tanya, siapa orang tuaku ? seperti apakah wajah mereka ? Karena sekelilingku masih dinding rahim Ibu yang melindungiku. Dan masih terjaga dari hembusan dunia luar.
Kini aku telah mengeja kata, menghitung angka dan menabung langkah. Aku juga telah mengenal wajah. Wajah kalian. Memahami segala perasaan dari cahayamu. Senang, sedih, marah, bahagia dan senyuman. Semua yang kalian curahkan hanya untukku. Dengan berjuta kasih sayang. Meski terkadang sesekali aku membuat kesal. Karena menuruti egoku yang penuh api, aku sampai pernah membuatmu menitikkan air mata. Namun kalian tetap mencurahkan segalanya untukku.
Sekarang aku tengah di perantauan. Mendaki gunung kehidupan untuk menuju puncak kemenanga. Dorongan dan semangat kalian telah membawaku hingga saat ini. Begitu besar jasa kalian, yang takkan pernah bisa kubalas semuanya. Meski segunung emas permata kuberikan,itu pun mungkin secuil dari apa yang telah kalian berikan kepadaku hingga kini. Hingga ku dapat berjalan sendiri dan terlepas dari belenggu utnuk mulai menjajak di tanah baru.
Ayah, Ibu, kini rambutmu telah memutih. Saatnya untuk dirimu mengistirahatkan punggungmu. Dan saatnya aku menggendongmu. Membawamu menjalani segala pahit manis yang diberikan Tuhan kepada kita. Hingga pada akhirnya aku bisa membalas budi kalian, meski nantinya sampai rambutku ikut memutih dan habis termakan usianya. Hanya satu yang ku ingin, untuk kebahagiaan kalian. :’)

Kamis, 20 Maret 2014

Teringat Sesuatu

Apa yang ingin kukejar kini telah tergenggam,
Apa yang tergenggam kini hampir terbengkalai,
Ingin mengejar kembali tapi kaki terikat rantai,
Berusaha mengejar lagi dengan langkah dan berbenah.

Minggu, 12 Januari 2014

Di Balik Kemudahanku ??? -_- -_-

Langit pun tak tersenyum bulan ini. Selalu dengan murung mendung, bersama tangisan – tangisan hujannya. Matahari pun terkadang juga nampak sebentar. Sekedar menyapa. Menyambut hari yang tengah aku jalani, atau apa. Entah.

Sesekali pernah terdengar. Omongan orang – orang sekitar. Keluarga, tetangga atau yang sering aku temui di sekian hari – hariku, sahabat dan teman – teman. Jika kalian bertanya, “Siapa sih Rio itu ?”. Jawabannya pasti berbeda – beda di setiap pemikiran orang. Banyak yang menilaiku ini orang yang baik. Dan tak sedikit pula orang menilaiku dengan keburukanku. Semua bebas menilai siapa aku, yang kutahu aku adalah “aku”. Dan yang mengetahui siapa aku sebenarnya hanyalah aku sendiri dan Sang Pencipta. Dan apabila kalian bertanya padaku mengenai siapa diriku, jangan berpikir aku orang yang hebat. Aku hanya manusia. Manusia yang harus memenuhi tugasnya di sepanjang jalan hidupnya, bersama kelebihan dan kekurangannya. Itu saja. Deskripsi aku baik atau buruk itu terserah penilaian kalian bagaimana kalian memandang seorang aku ini.

Dan apabila kalian sempat berpendapat, “Rio keren, apa yang dikecimpunginya pasti berhasil. Selalu disampingnya ada teman – teman yang akrab. Dan dirasa sekelilingnya itu mudah baginya. Sampai – sampai dia sering diandalkan oleh teman – temanya.”, yaitu pendapat seperti itu, tidak semuanya benar. Jangan anggap aku ini hebat, kuat, keren apalagi super. Tidak. Aku hanya manusia biasa. Sama seperti kalian. Yang kulakukan hanya melakukannya sebisa yang aku mampu. Apabila di mata kalian aku memang seperti itu, hanya satu yang dapat kuucapkan, Terima Kasih. Namun ingat bahwa aku ini hanya seorang manusia biasa yang sama seperti kamu, kalian, dia, mereka dan semuanya. Meski aku terlihat selalu dikelilingi kemudahan, aku selalu melihat titik hitam pekat tak pernah hilang di suatu sisi, saat aku menoleh.

Tapi, satu yang kuyakini. Di sini kita manusia, diberi kaki untuk melangkah menuju perubahan. Diberi pikiran untuk mengusung perubahan. Dan diberi hati untuk memimpin perubahan. Selama apa yang ingin kita lakukan dirasa kita mampu melaksanakannya, maka akan mudah bagi kita untuk menjalaninya, melakukannya dan mengerjakannya. Tanpa ada beban yang berat yang terpikirkan menghambat semuanya. Dan aku melakukan semua yang kulakukan sesuai denga porsi yang kurasa cukup untukku. Mungkin itu yang membuat perjalananku dirasa mudah. Dan mungkin itulah di balik kemudahanku...

“Saat kita hendak melaju menuju suatu titik, tetapi langkah yang diambil tidak disesuaikan dengan porsi kita, pastilah kita akan kesulitan dan tersesat. Meskipun itu di jalan lurus berkilo – kilo meter di padang luas tanpa obyek yang menghalangi.”
.........

Selasa, 07 Januari 2014

Tetap Saja Aku Kalah

Jauh sudah aku persiapkan semua ini. Semangat, tenaga, bahkan hingga materi pun ludes. Hari ini pun hari terakhir dimana aku dan kawan - kawanku berperang menuju tes akhir. Awal, kami tengah tak berhasil. Bahkan mungkin gagal. Semua yang aku kerjakan tak ada yang menyala. Semua seperti mati tak bernyawa. Seakan menolakku. Hingga akhirnya aku tertunduk hingga pada hari ini.

Aku pun salah...

Aku berharap baik dan sempurna hari ini. Semua sudah ku persiapkan sematang mungkin. Ku periksa lagi tak ada yang cacat dan sebagainya. Namun aku pun salah. Pagi ini kuawali dengan hal buruk, kuanggap itu hanya sepele. Tak penting. Bahkan mungkin hanya selingan pagi. Detik, menit, jam kupenuhi dengan membaca dan menghafal. Hingga deadline yang ditunggu pun tiba.

Aku pun kalah...

Saat yang paling ditunggu. Yang paling dinanti. Yang paling membuatku tidak bisa bernafas lega selama ini. Sudah berdiri diambang pintu. Langit waktu itu rasanya gelap sekali. Pikiran kemana - mana nggak bisa fokus. Akhirnya giliranku datang untuk berperang. Saat itu tengah dikejar waktu. Sehingga aku lupa mana yang tadi seharusnya kupegang. Dan saat itu dimula, hancur sudah. Semua tak berjalan secara sempurna. Semua yang terencana hangus begitu saja. Hanya karena tergesa - gesa dan tak teliti. Itu saja. Hingga pada akhirnya aku seperti mendapat tamparan keras. Di sini aku memepelajari sesuatu. Sesuatu yang membuat aku bercermin kembali. Dan aku pun kalah. Oleh diriku yang lalai.

"Keberhasilan itu tak datang sendiri. Dia harus dijemput bersama usaha, semangat, ketelatenan, do'a serta pengorbanan. Dan mereka akan turut serta bersama manusia yang mengawali harinya dengan hal baik."

Sabtu, 04 Januari 2014

Butuh Pemahaman

Saat ini, banyak sekali kalimat, ucapan ataupun kata - kata bermacam jenis ada dimana - mana. Banyak. Banyak sekali. Ada di sekitar kita, di sosial media atau di gadget masing - masing. Semua itu ungkapan hati dari masing - masing manusia. Aku sempat heran, meskipun saran dan kritik itu boleh dan bahkan perlu, cuma aku sempat berpikir mengenai hal yangg mengganjal. Contoh kecil saja misalnya status di jejaring sosial, ada 2 status yang sama, "Hidup itu indah". Yang anehnnya itu, "Penyuka" dan "Pengomentar"-nya itu responya tidak seimbang. satunya mendapat jumlah lebih sedikit dari yang satunya. Dan yang mendapat banyak itu rata - rata adalah status dari seorang penulis terkenal atau artis terkenal atau mungkin seorang motivator. Kenapa Ya ? apakah penulis itu lebih bijak dari orang biasa ? Lebih benar kata -katanya ? atau supaya agar ikut dikenal oleh orang terkenal itu sendiri ? Sebenar - benarnya kita itu sama. Manusa.

Juga ketika ada yang mengritik pedas karya sebuah tulisan orang lain. Entah puisi, cerpen bahkan kata - kata bijak semacam motivasi dan yang lainnya. Bahwa ada yang lebih baik dan lebih bagus serta lebih berbobot dari miliknya, katanya. Dan apakah setiap tulisan yang keluar dari curahan hati seseorang biasa hingga menjadi suatu karya adalah kesalahan ? kebodohan ? ke-alay-an ? Atau bahkan ketidakharusan ? Sebenar - benarnya kita itu sama. Manusia.

Kritik dan saran itu boleh. Bahkan dianjurkan. Tapi saat men-judge suatu karya, dalam bentuk apapun, sebaiknya kita bercermin dulu. Apakah kita sudah lebih baik ? Meski sudah berpengalaman, apakah saat zaman kita juga tidak seperti ini ? Semua karya dan hasil itu tidak main - main. Bukan hanya tulisan, mungkin juga lisan, konsep kegiatan, ataupun audio dan visual. Prosesnya pun tidak makan waktu yang begitu singkat dalam penciptaannya.  Lama. Lama sekali. Penuh nilai dan keringat di setiap titik usaha itu. Bahkan terkadang kejenuhan yang membuat kesal. Dan bukan saatnya kita men-jugde. Saatnya kita bercermin, karena setiap manusia itu punya karakter masing - masing, parameter masing - masing dan pemahaman masing - masing.

Kamis, 02 Januari 2014

Kepekaan Diri, Kepekaan Hati

Begitu banyak yang berlalu. Tak hanya hari ini. Tak hanya detik ini. Tapi bisa saja seminggu, sebulan, setahun atau bhkan sepuluh tahun. Selama hari yang berlalu itu, terukir begitu banyak hal yang mewarnainya. Begitu banyak cerita yang menghiasinya. Bersama angin yang menyejukkan, dan mentari yang menghangatkan. Di sela - sela itu, terdapat senyum dan tangis di setiap isak tawanya. Dan apakah kita menyadari makna di dalamnya ? Entah.

Bisa dibilang, manusia itu jarang atau bahkan tidak sama sekali memikirkan pa yang terjadi di sekitarnya. apa yang berlalu di depannya. Apa yang melintas di belakangnya. Hingga tak satu pun yang mendapat perhatian mata. Banyak insan yang mengeluh mengenai kehidupannya, kisah cintanya, keberuntungannya, mungkin juga sudah sampai keegoisannya. Tak ada yang tahu. Dan tak ada yang mau tahu. Itulah manusia.

Semua ini mengenai kepekaan diri. Di kala kita menapak Bumi, banyak sekali kejadian misteri yang melintas mengelilingi kita. Bahkan mengejar kita yang kita tak tahu. hingga jatuhlah kita dalam suatu keterpurukan. Hal itu karena kurangnya kepekaan diri kita, sehingga keluhan saja yang keluar dari mulut kita, dari pikiran kita, dari batin kita. 

Sebenarnya, Banyak nilai yang kita petik jika kita sudah terbiasa mengaktifkan kepekaan diri. Memahami segala arti perjalanan kehidupan kita sejak dini. Ditmbah kepekaan hati yang membuat tentram. Yang membuat senang. tanpa kita harus mengeluh karena kita tahu apa yang kita lakukan dan yang haurs dilakukan.

Senin, 13 Mei 2013

Tiap Kata Penuh Makna

A, B, C, D, E dan seterusnya...

Setiap hari, kata selalu terucap dari mulut manusia. Sepatah, dua patah kata, tiga patah kata dan seterusnya. "Kata" merupakan hal menarik. Karena dengan berucap beberapa saja. Kita dapat melakukan perubahan.

Makna yang tenggelam dalam kata merupakan misteri yang penuh misteri. Tak peduli bagaimana kata itu akan terucap, pasti ada saat dimana akan terjadi sesuatu. Tidak menyangkal meski itu adalah sedikit. Sedikit yang berarti banyak untuk seseorang, yang mampu memaknai arti dari sebuah kata.

Dalam hidup ini, manusia takkan pernah lepas dari jeratan komunikasi. Dengan atau tanpa suara, manusia selalu diiringi oleh hamburan kata yang begitu banyak jenis dan wujudnya. Dan di dalam tiap wujud itu, terbersit sekilas makna yang begitu dalam untuk diresapi.

Sabtu, 11 Mei 2013

Diterpa Hembusan Kota Angin

Perjalanan jauh dari kota pahlawan memberikan kesan tersendiri. Menyusuri jalan di tengah truk - truk berlalu - lalang. Putaran roda. Kepulan Asap. Dan teriaka klakson pun ikut meramaikan jalan di malam hari.

Tak jenuh pandangan terus menatap ke depan. Berkonsentrasi penuh menatap jalan menuju tujuan. Alunan musik yang mengiringi, tak luput dari waktu yang terus berjalan. Meski sempat motor terhenti sendiri. Menghambat jalannya waktu. Kami berusaha untuk tetap terus maju.

Masalah yang terlewat pun telah usai. Angin dingin sepoi menghembus dari depan. angin saat memasuki kota angin. Tanah kelahiran tercinta telah mulai kami jajaki. Setelah menempuh perjalanan sekian jauhnya. Talah sampailah kami di depan mulut desa.

Perlahan masuk menyusuri jalan gelap yang lurus ke barat. Lampu - lampu rumah sekitar tak bersinar seiring dengan larutnya waktu. Bagaikan rumah tak berpenghuni. Terdengar gonggongan lirih sempat menghadang di depan. Tanpa rasa takut, kami terus melaju menuju pelukan hangat orang tua tercinta.